Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle
Apresiasi bagi Perupa Keramik
JAKARTA, KOMPAS.com - "Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle #1, Ceramic Art : In Betweeen" untuk pertama kalinya di Asia Tenggara diselenggarakan di Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta, Sabtu (19/12/2009). Bienalle ini merupakan bentuk penghargaan sekaligus apresiasi kepada para perupa keramik.
Untuk pertama kalinya, JCCB memamerkan karya-karya dari 40 perupa keramik internasional dan nasional. 40 perupa keramik itu datang dari Belanda, Australia, Italia, Amerika Serikat, Singapore, Malaysia, Philipina, dan Indonesia.
Dalam sambutannya, Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pemilihan tema keramik ini sendiri tidak lepas dari minimnya apresiasi yang diberikan kepada para perupa keramik dibandingkan dengan karya seni lainnya.
"Dengan diadakannya Bienalle ceramic ini diharapkan akan memacu perkembangan seni rupa keramik yang telah memberikan suatu nilai tambah, nilai seni, dan estetika terhadap materi tanah liat menjadi sebuah karya yang luar biasa maupun apresiasi dan minat masyarakat terhadap seni keramik sebagai salah satu cabang seni yang tertua di dunia," ucap Budi saat membuka JCCB #1 di North Art Space Gallery, Ancol, Jakarta.
Sementara itu kurator, Rifky Effendy menjelaskan beberapa hal penting yang mendasari diselenggarakannya JCCB #1. Pertama adalah eskalasi aktifitas pameran seni rupa kontemporer dalam beberapa tahun terakhir ini, memberi ruang bagi karya-karya objek dan patung dengan medium keramik, baik sebagai medium utama maupun sebagai elemen dalam karyanya.
Kedua adalah munculnya pemikiran dan pemahaman baru terhadap dunia seni rupa dan praktisi seni keramik. "Forum-forum internasional seni keramik kini bermunculan di Asia, terutama di Taiwan dan Korea, begitupula interaksi diantara seniman keramik yang kini semakin intens seiring dengan medan sosial (kapital) seni rupa saat ini, baik dalam konteks lokal, regional, maupun internasional," ucap Rifky.
Ketiga yaitu keberagaman bentuk idiom seni keramik yang luas akan masih terus berkembang dan juga menjadi potensi bagi publik untuk mengapresiasi lebih jauh, bagaimana dunia keramik bermakna pada aspek kehidupan sebuah budaya masyarakat ini. Asmojo selaku kurator pun turut memberikan pendapatnya tentang perkembangan seni keramik di Indonesia.
"Berbeda dengan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea, Taiwan dan China, Indonesia tidak memiliki tradisi keramik yang canggih, karena itu modal kultural, teknologi, dan apresiasi masyarakat terhadap seni keramik rendah. Bukan hal yang mengherankan jika perkembangan seni keramik jauh dari pesat," ucap Asmujo.
Perupa-perupa keramik yang ikut serta dalam Biennale ini antara lain AA Ivan WB (Bali), Aedan Harris (Australi), Ahadiat Joedawinata (Bandung), Ahmad Abu Bakar (Malaysia), Dona Prawita Arissuta (Sleman, Yogyakarta), Hadrian Mendoza (Philippine), Ponimin (Malang), Sri Hartono (Solo), Tisa Granicia (Bandung), dan para perupa-perupa keramik lainnya dari internasional dan nasional.
Pada akhir acara, Budi Karya berharap JCCB #1 ini akan menjadi suatu momentum sebagai perhelatan yang berskala besar dan berkala dua tahunan, bagi para praktisi serta pemerhati seni terutama seni keramik. Bukan hanya di tanah air, tapi juga dalam peta seni rupa di Asia Tenggara dan Internasional.
"Dari karya-karya dalam bienale keramik ini diharapkan publik bisa mengapresiasi bagaimana keberagaman dan keluasan seni keramik sekarang. Baik dalam lingkup praktik art craft (kriya seni), hingga seni konseptual dan media baru," ucap Budi menutup pidato pembukaan JCBB #1.


0 komentar:
Posting Komentar